Di dalam artefak pagoda Qingling, Lynx berusaha menstabilkan kondisi Lala dari marabahaya akibat ulah komandan Vex. Dibelakangnya, Leena diam memperhatikan.

"Kenapa badanku terasa merinding ya? Kenapa udaranya terasa lebih dingin?" batin Lynx sambil memeluk dirinya sendiri pelan. Dia tidak menyadari, di belakangnya, Leena menatap tajam ke arahnya dengan tatapan marah yang ditahan.

Lynx masih fokus memperhatikan kondisi Lala, memastikan tidak ada lagi benda berbahaya di tubuhnya. Dalam benaknya, Lynx merasa sedih membayangkan kemungkinan yang telah terjadi pada Lala saat ditahan oleh Komandan Vex.

"Mau sampai kapan kamu memperhatikan tubuhnya?" Sebuah suara menyentak kesadarannya.

"Maaf, aku cuma ingin memastikan semua nano partikel di tubuh Lala sudah berhasil aku keluarkan," jawab Lynx cepat sambil berdiri dan menghindari tatapan. Ia menyadari Leena belakangan ini berbeda, lebih mudah marah dan tampak sensitif.

"Kapan dia sadar?" tanya Leena pelan sambil menunduk, lalu menutupi tubuh Lala dengan jubah miliknya. Suaranya terdengar lelah, seperti sedang menahan sesuatu.

"Seharusnya tidak lama lagi. Biarkan dia istirahat, aku ingin memeriksa pagoda Qingling ini." kata Lynx lalu menaiki lantai kedua pagoda. Ini pertama kalinya ia naik ke tingkat itu. Saat menolong Kael, dia tidak memiliki kesempatan memperhatikan ruangan pagoda ini.

"Tangga yang unik, aku merasakan setiap anak tangga yang kunaiki, tekanan ditubuh terasa berbeda, lebih kuat dan berat. Apakah ada formasi di sekitar sini." Batin Lynx sambil memeriksa sekitarnya.

Setibanya di lantai dua, suasana tidak jauh berbeda dengan lantai pertama, tapi gaya gravitasinya terasa lebih kuat beberapa kali lipat dari anak tangga, memberikan tekanan besar ke tubuh.

Lynx menghela napas dalam hati. "Tempat ini cocok untuk penempaan tubuh dan melatih kekuatan kultivasi, darimana tuan Zhen mendapatkan artefak ini? Lalu kenapa artefak seperti ini belum dibuat ikatan spiritual? Bukankah tuan Zhen bisa memanfaatkan artefak ini lebih baik jika menjadi tuannya?" batinnya dengan heran.

Lynx melepaskan energi spiritual untuk memeriksa seluruh ruangan. "Seandainya aku tidak punya tubuh istimewa, pasti sudah kuserap habis semua energi spiritual ditempat ini untuk meningkatkan ranahku."

Lynx lalu memandang ke arah tangga masuk, dia merasakan Leena sedang berusaha untuk dapat naik ke tangga terakhir, tangga ke sepuluh.

"Tempat ini cukup menarik Lynx. Tubuhku bahkan tidak bisa bergerak bebas di lantai kedua ini." Kata Leena yang datang menyusul ke lantai dua. Keringat di dahinya menunjukkan upayanya untuk dapat naik tanpa menggunakan Qi spiritual. Suara napasnya tersengal kelelahan.

"Sepertinya bangunan lantai ini sengaja dirancang berbeda dengan lantai pertama. Pembuatnya merancang lantai pertama siapapun bisa memasukinya, namun untuk memasuki lantai berikutnya, mereka harus memiliki kekuatan yang besar atau setelah menguasai ruang pertama. " Jawab Lynx sambil memperhatikan keadaan sekitar.

"Bagaimana dengan Lala? Apakah Lala belum sadar?" Tanya Lynx sambil menatap ke arah Leena.

Leena menggelengkan kepalanya,"Seperti katamu, seharusnya dia baik-baik saja. Napasnya teratur, selain itu aku merasakan ranjang batu giok itu membuat energi spiritual mengalir masuk ke tubuhnya. Jadi aku meninggalkannya."

"Lynx, sambil menunggu Lala pulih, bagaimana kalau kamu melatihku? Aku ingin melemaskan badan dan meminta pendapatmu soal kemampuanku saat ini," ujar Leena sambil melangkah mendekat. Tatapannya menjadi lebih dingin, dan pedang sudah terhunus di tangan kanannya.

Lynx menggeleng pelan. "Tidak bisa. Aku sudah memeriksanya. Meskipun tempat ini bagus untuk melatih fisik, tempat ini tidak dirancang untuk menahan guncangan latihan. Kita bisa melakukannya di tempat lain," ucapnya sambil memandangi Leena, yang kini tampak memancarkan aura membunuh samar.

"Kenapa aku merasa dia seperti ingin membunuhku? Ah, tidak mungkin. Pasti hanya perasaanku saja. Atau apakah dia marah gara-gara aku melihat Lala tanpa busana," pikir Lynx, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Huh" Leena mendengus dan dengan gerakan kasar memasukkan kembali pedangnya. Ia melangkah menuju tangga ke lantai tiga, wajahnya jelas menunjukkan kekesalan.

"Aku coba ke lantai tiga" ucapnya ketus. Namun begitu kaki kanannya menyentuh anak tangga pertama, tubuhnya langsung ambruk. Tekanan luar biasa menghantamnya, seperti ribuan ton beban menimpa tubuhnya. Leena tersungkur dan memuntahkan darah.

"Leena" seru Lynx cemas. Ia segera melompat mendekat, menarik tubuh Leena lalu menyalurkan energi sakti lewat telapak tangannya, berusaha memulihkan kondisi Leena secepat mungkin.

"Lepasin aku" bentaknya geram, mendorong tangan Lynx. Ia bangkit dengan susah payah, lalu berbalik dan mulai menuruni tangga menuju tempat Lala tanpa menoleh sedikit pun.

Lynx memperhatikan Leena yang perlahan turun ke lantai terbawah pagoda, langkahnya berat dan tanpa suara. "Huff... sepertinya aku harus lebih memperhatikannya. Karena banyak masalah belakangan ini, aku jadi sering mengabaikannya," batin Lynx sambil menatap kosong ke arah tangga.

"Meski pagoda ini sangat luar biasa, tetapi pagoda Qingling ini milik tuan Zhen, sebaiknya aku kembalikan setelah ini."batin Lynx sambil memeriksa keadaan sekitar.

Setelah memeriksa lantai dua dengan saksama, Lynx memutuskan untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya. Ia ingin tahu apa saja yang tersimpan di dalam pagoda ini sebelum benar-benar mengembalikannya pada tuan Zhen. Rasa penasaran yang menggelitik benaknya tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Hanya menginjak anak tangga pertama, Leena bisa terluka. Membuatku penasaran." Lynx melangkah naik menuju lantai tiga. Setiap anak tangga yang dia lewati,  dirasakan jauh lebih berat dari ruang lantai dua. Setiap anak tangga seolah-olah ada tangan tak terlihat yang mencoba menarik tubuhnya kembali ke bawah.

"Tangga ini terlihat biasa saja, namun baru beberapa langkah aku menapakinya, tekanan gravitasi langsung meningkat drastis. Kurasa sudah puluhan kali lipat lebih berat dari lantai dua." Batin Lynx. Namun dengan santai dia tetap melangkah, tidak terpengaruh oleh tekanan tersebut.

Saat mencapai puncaknya, tekanan itu semakin menggila. Udara terasa padat, dan dinding-dinding bergetar seakan memprotes keberadaannya.

Namun Lynx hanya menarik napas pelan, lalu terus melangkah. Tubuhnya tetap rileks, wajahnya tenang. Seolah tekanan yang seharusnya bisa melumpuhkan siapa pun itu hanya hembusan angin sore.

"Tekanan seperti ini sudah pasti tidak sembarang orang bisa melewatinya, bahkan tingkat immortal pasti merasa kesulitan," gumamnya, kagum. Ia semakin penasaran. Siapa sebenarnya pencipta artefak ini? Bahkan dalam ingatan leluhur Xiao Tang, tidak pernah ada informasi tentang cara membuat artefak sebesar dan serumit ini. Leluhur Xiao Tang  hanya pernah mendengar adanya artefak tingkatan surgawi, dan itu pun sangat langka ditemukan.

Begitu menapakkan kaki di lantai tiga, Lynx mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan itu lebih kecil dibanding dua lantai sebelumnya. Secara bentuk terlihat tidak berbeda jauh dengan ruangan lainnya. Namun di tengah ruangan, terdapat sebuah formasi berbentuk lingkaran yang memancarkan energi lembut namun dalam. Lynx bisa langsung merasakannya. Itu pusat kekuatan dari seluruh struktur pagoda ini.

Ia melangkah pelan mendekat, namun belum sempat menyentuh batas formasi, cahaya samar muncul di depannya. Dari cahaya itu, perlahan terbentuk sosok seorang pria tua, berjubah panjang dan berjenggot putih. Matanya tajam namun bersahabat, penuh wibawa dan kebijaksanaan yang terasa menembus ruang dan waktu.

"Aku tak menyangka ada yang bisa sampai ke sini," ucap sosok itu sambil tersenyum, suaranya dalam dan bergema di seluruh ruangan. "Setelah ribuan tahun, akhirnya ada manusia dunia bawah yang memiliki kemampuan. Namaku Qian Xu."

Lynx menyipitkan mata, tidak merasa heran karena kebanyakan artefak dimensi pasti memiliki penjaga. "Kau penjaga tempat ini?"

"Bisa dibilang begitu," jawab Qian Xu sambil tertawa kecil. "Sudah ribuan tahun... tidak ada satu pun yang berhasil menginjakkan kaki di lantai tiga. Tempat ini dirancang untuk menguji batas kemampuan seseorang. "

Setelah terdiam sesaat, Qian Xu melanjutkan. "Tangga yang kau lewati tadi akan menyesuaikan tekanannya berdasarkan kapasitas tubuh dan kekuatan jiwa. Tapi... saat aku mencoba mengukur kemampuanmu, aku tidak menemukan batasnya. Jadi aku naikkan tekanannya ke titik maksimal."

Ia menatap Lynx dalam-dalam, matanya menyiratkan kekaguman tulus. "Tapi kau tetap bisa naik... tanpa sedikit pun kesulitan. Itu pertama kalinya aku melihat yang seperti ini."